• Twitter
  • Facebook
  • Google+
  • Instagram
  • Youtube

About me

Let me introduce myself


siapa sih aku?....

Mahasiswi Akademi Farmasi Theresiana Semarang

Leo 31 Juli 1997

Profile

Monika Rani

Personal info

Monika Rani Nugraheni

NIM : 15.0574

E-mail: monikaranin31@gmail.com

Portfolio

My latest projects


Kamis, 31 Desember 2015

Perwujudan Iman Dalam Kehidupan Sehari-hari

Perwujudan Iman Dalam Kehidupan Sehari-hari

Perwujudan Iman Dalam Kehidupan Sehari-hari




Percaya kepada Allah merupakan perwujudan salah satu dari iman. Iman sendiri secara bahasa dapat berarti ‘membenarkan’. Perwujudan iman bisa dilakukan kapan pun dan pada saat apa pun.
Perwujudan dari ‘percaya kepada Allah dan Nabi Muhammad’ dalam perbuatan dapat dikatakan merupakan hal yang paling sulit dilakukan dibandingkan dengan mengucapkannya secara lisan atau mengakuinya dalam hati. Tetapi tidak ada artinya meyakini ‘sesuatu’ tanpa melakukan hal untuk ‘sesuatu’ tersebut. Bentuk nyata dari iman kita kepada Allah dan Rasul-Nya adalah dengan menjalankan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya atau disebut bertaqwa. Beriman dan bertaqwa seperti satu paket yang harus dijalankan untuk menjadi umat Islam yang baik. ‘Menjalankan perintah-Nya’ dapat kita lakukan dengan melaksanakan rukun Islam yang kedua hingga kelima, yaitu sholat, puasa, zakat, dan haji, yang mana merupakan kewajiban bagi umat Islam. Namun lebih dari itu, iman dapat diwujudkan dengan selalu melakukan suatu pekerjaan atau kegiatan atas dasar ibadah di jalan Allah.
Banyak sekali contoh penerapan yang dengan mudah dapat kita temui di kehidupan sehari-hari, misalnya saja, bersedekah kepada fakir miskin karena Allah, bukan karena ingin dipuji masyarakat. Contoh lainnya; menjalankan amanat sebagai pemimpin karena Allah, bukan karena menginginkan kekuasaan dan kehormatan semata;  Menolong orang lain dengan ikhlas karena Allah, bukan karena keuntungan yang akan didapatkan; dan sebagainya. Sebenarnya, niat awal kita dalam melakukan sesuatu itulah yang sangat menentukan nilai atau kualitas dari apa yang kita lakukan di mata Allah. Selebihnya, pujian dan keuntungan yang didapatkan dari orang lain atau masyarakat merupakan bentuk imbalan atas ketulusan hati kita. Dengan melakukan segala sesuatu karena Allah maka kita menghindarkan diri dari sifat-sifat buruk seperti riya, serakah, dan sebagainya, yang dapat diartikan sebagai ‘menjauhi larangan-Nya’. Dari hal-hal tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa ketaqwaan seseorang menunjukkan keimanan seseorang, dan juga sebaliknya. Dan puji Tuhan sampai pada saat ini saya masih diberi rejeki yang cukup dan masih boleh bersedekah kepada sesama


Senin, 14 Desember 2015

Bijaksana itu Penting

Bijaksana itu Penting






Kesibukan bukan halangan untuk saya melakukan hal yang baik. Ya memang sekolah di farmasi hampir tidak ada waktu luang. Laporan, praktek, tugas, ujian begitu seterusnya. Tetapi puji Tuhan walaupun kesibukan itu selalu ada dalam kehidupan saya selama kurang lebih sudah 3 tahun ini semenjak saya SMK, saya masih bisa mengikuti berbagai kegiatan. Salah satu kegiatan kampus yang saya ikuti di kampus adalah koor. Jujur saja, di kampus saya tidak banyak yang mengikuti koor karena mungkin minoritas agama nasrani lebih sedikit. walaupun yang mengikuti hanya sekitar 10-12 mahasiswa, itu tidak membuat saya urung diri.
Suatu hari kami kelompok koor dari kampus mendapatkan tugas di salah satu Gereja di daerah Krapyak. Sebenarnya memang jauh-jauh hari sudah diberitahukan di grup, tetapi ada yang bilang belum lah, ini lah itu lah, entah karena mungkin mereka tidak tahu atau hanya permainan mereka yang tau hanya mereka dan yang Kuasa. Walaupun kami berlatih hanya 5 orang mula-mula tapi kami masih punya semangat untuk berlatih. Hari demi hari kami lewati untuk berlatih. 4 hari sebelum saya dan teman-teman mengisi koor di Gereja, saya mendapat kabar dari keluarga saya yang ada di Madiun untuk datang ke acara mereka. Sungguh disitu saya benar-benar bingung. Di hari yang sama, saya harus memilih yang mana antara tetap mengikuti koor dan keluarga saya. Sungguh keputusan yang berat mungkin, tapi saya harus bijaksana dalam mengambil keputusan ini. Dalam hati saya selalu bilang untuk tetap mengikuti koor itu, karena saya sudah berjanji untuk mengikutinya dan itu sudah suatu panggilan saya, sedangkan untuk acara keluarga mungkin di lain hari saya bisa kesana entah setelah saya mengikuti misa atau di har setelah itu. Malam hari saya selalu berdoa dan meminta kepada Tuhan untuk menentukan jalan yang terbaik untuk pilihan saya saat itu.

Dan keputusan saya saat itu adalah saya tetap mengikuti koor, karena itu sudah kewajiban saya dan janji saya. Bukan karena apa apa saya ikut tapi karena Tuhan sudah bekerja dalam hidup saya. Walaupun saya merasa sedikit kecewa karena hanya sedikit yang mengikuti diluar perkiraan saya tapi saya sudah bersyukur karena menurut saya pribadi saya sudah mempertanggung jawabkan iman saya dan saya harus bijaksana dalam mengambil keputusan saya. Semoga saya selalu bersikap bijaksana dalam mengambil keputusan di kemudian hari dan iman saya selalu dikuatkan Amin Berkah Dalem J


Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat (Ibrani 11:1)

Kamis, 12 November 2015

Iman Adalah Proses

Iman Adalah Proses








Kita menyadari, bahwa iman adalah rahmat pemberian dari Allah. Namun demikian, untuk menjadi beriman butuh proses dan perjuangan yang panjang. Beriman itu tidak sekali jadi. Seringkali kita jatuh pada kerapuhan yang sama. Misal saja saat memasuki ruang pengakuan dosa., dosa yang sama sering muncul dan kita berjanji tidak akan mengulanginya lagi, tetapi saat menghadap room di ruang pengakuan dosa kembali kita mengakukan dosa yang sama. Inilah yang dinamakan proses. Sejauh mana kita mau mengolah diri, meneliti batin dan mau berbalik arah menuju pertobatan.








Iman itu semakin berkembang saat kita mampu melihat semua pengalaman hidup ini sebagai bagian dari “Rencana Allah”. Memang tidak dapat dipungkiri, proses yang panjang dan tidak mudahlah yang akan mengasah pertumbuhan iman kita. Melalui sesuatu yang tidak enak, mengusik hati kita juga pengalaman luka dan kegagalan yang kita alami. Kita boleh belajar dari satu inspirasi yang datang dari daerah Timur Tengah. Saat akan menanam kurma di padang yang gersang, ada satu pemandangan yang menarik untuk direnungkan. Setelah menggali lubang, memasukkan biji kurma, menutup dengan tanah, lalu para petani kurma akan menindih lubang yang sudah ditanami itu dengan batu. Tujuannya agar kurma itu bisa tumbuh. Bagaimana mungkin? Ternyata, tanaman kurma yang tumbuh cepat dengan tunasnya ke atas permukaan tanah akan mudah mati karena akarnya belum kuat untuk mencari nutrisi di tanah gersang itu. Maka ketika ditindih batu, akan memproses akarnya mencari makan dan mendapatkan nutrisi dan jika akarnya telah kuat ia akan mampu mendorong beban yang menindih tubuhnya. Kita tidak sedang bercerita tentang bagaimana bertanam kurma. Kita bisa belajar dan menyadari bahwa beban dalam hidup ini  akhirnya akan membuat akar iman hidup kita bertumbuh dan mendalam, serta mampu menghadapi situasi dari luar yang membuat kita terhimpit.


Semoga kita lebih mengenal siapa diri kita, kerapuhan kita, beban-beban hidup kita dan menjadikannya kekuatan untuk mengalami hidup yang baru. Amin J 

Toleransi Beragama

Toleransi Beragama




Pada era globalisasi saat ini, umat beragama dihadapkan pada serangkaian tantangan yang tidak terlalu berbeda dari yang pernah ada sebelumya. Perbedaan agama adalah fenomena nyata yang ada dalam kehidupan, karena itu toleransi sangat dibutuhkan. Hampir semua orang tahu bahwa Islam adalah agama yang toleran terhadap pemeluk agama dan kepercayaan lain. Sebab dalam pandangan Islam setiap orang wajib dihormati kebebasannya dalam menentukan jalan hidupnya. Kebebasan dan toleransi merupakan dua hal yang sering kali dipertentangkan dalam kehidupan manusia. Secara khusus dalam komunitas yang beragam dan akan lebih rumit ketika dibicarakan dalam wilayah agama. 

Kebebasan beragama pada hakikatnya adalah dasar terciptanya kerukunan antar umat beragama. Tanpa kebebasan beragama tidak mungkin ada kerukunan antar umat beragama. Kebebasan beragama adalah hak setiap manusia. Hak untuk menyembah Tuhan diberikan oleh Tuhan, dan tidak seorang pun yang boleh mencabutnya. Demikian juga sebaliknya, toleransi antar umat beragama adalah cara agar kebebasan beragama dapat terlindungi dengan baik. Namun yang sering kali terjadi adalah penekanan dari salah satu pihak. Kebebasan dan toleransi tidak dapat diabaikan. Untuk dapat mempersandingkannya dibutuhkan pemahaman yang benar mengenai kebebasan beragama dan toleransi antar umat beragama dalam kehidupan sehari-hari. 

Pengertian Toleransi dalam bahasa Arab disebut “tasamuh” artinya bermurah hati, yaitu bermurah hati dalam pergaulan. Kata lain dari tasamuh ialah “tasahul” yang berarti bermudah-mudah. 
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Toleransi yang berasal dari kata “toleran” berarti bersikap atau bersifat menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan), pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, dsb) yang berbeda atau yang bertentangan dengan pendiriannya.
WJS. Poerwadarminta mengartikan toleransi dengan kelapangan dada, dalam arti suka rukun kepada siapapun, membiarkan orang lain berpendapat atau berpendirian lain, tak mau mengganggu kebebasan berpikir dan keyakinan orang lain”.
Jadi toleransi (tasamuh) beragama adalah menghargai dengan sabar, menghormati keyakinan atau kepercayaan seseorang atau kelompok lain. Kesalahan memahami arti toleransi dapat mengakibatkan talbisul haqbil bathil (mencampuradukkan antara hak dan bathil) yakni suatu sikap yang sangat terlarang dilakukan seorang muslim, seperti halnya nikah antar agama yang dijadikan alasan adalah toleransi padahal itu merupakan sikap sinkretisme yang dilarang oleh Islam. Sinkretisme adalah membenarkan semua agama.
A.   Toleransi Dalam Perspektif Agama Islam
Toleransi juga diajarkan dalam Agama Islam, bahkan dalam Islam termasuk ajaran yang sangat prinsip. Hal ini dapat dipahami dari Misi Agama Islam itu sendiri, yang mana Islam itu sendiri bermakna damai, yaitu damai dengan sesama manusia dan malah dengan makhluk lainnya. Dengan demikian ajaran toleransi, sudah terkandung dalam penamaan Islam itu sendiri. Berlaku baik dengan sesama manusia memang sangat dianjurkan Islam. Begitu pula halnya dalam menyebarkan agama. Islam jauh-jauh sudah mengingat¬kan agar jangan memaksakan keyakinan/agamanya kepada orang lain, sebagaimana firman Allah dalam Surat al-Baqarah ayat 256. 
Artinya : “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya Telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya is Telah berpegang kepada buhul tali yang amat Kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” Adapun yang dimaksud Thaghut dalam ayat di atas ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Allah SWT.
Menurut riwayat Ibnu Abbas, asbabun nuzul ayat di atas berkenaan dengan Hushain dari golongan Anshar, suku Bani Salim yang mempunyai dua orang anak yang beragama Nasrani, sedang dia sendiri beragama Islam. Ia bertanya kepada Nabi saw : Bolehkah saya paksa kedua anak itu, karena mereka tidak taat padaku dan tetap ingin beragama Nasrani. Allah menjelaskan jawabannya dengan ayat di atas, bahwa tidak ada paksaan dalam Islam?"

Islam sangat menghargai eksistensi agama lain dan begitu pula dengan penganutnya. Dalam sejarah Islam tidak pernah memaksakan keyakinannya kepada orang lain.
Pemaksaan dalam bentuk apapun agar orang lain beriman sesuai dengan agama yang memaksa adalah tindakan tidak etis dan bertentangan dengan kemauan atau kehendak Allah. Ada beberapa ayat yang dapat menuntun umat Islam untuk mengembangkan konsep kerukunan antara sesama umat manusia. Misalnya Qur'an Surat Ali Imran ayat 103 
Artinya :“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.” Selain penjelasan dari al-Qur’an masalah toleransi juga ditemui dalam hadits. Hal ini dapat dilihat dalam perilaku nabi sehari-hari dalam bergaul dengan pe¬meluk agama lain. 
Di antara contoh perbuatan nabi yang berkaitan dengan toleransi, misalnya pada suatu ketika datang menghadap beliau di Madinah beberapa orang delegasi Kristen dari Najran yang diketuai seorang pendeta besar. Delegasi itu beliau sambut dengan cara yang sangat hormat. Beliau buka Jubahnya dan dibentang¬kan di lantai untuk tempat duduk para tamunya itu, sehingga mereka kagum terhadap penerimaan yang luar biasa sopannya. Kemudian ketika datang waktu sem¬bahyang mereka, sedang gereja tidak ada di Madinah, maka Nabi mempersilahkan mereka sembahyang di Masjid Madinah menurut cara sembahyang mereka.
Dengan demikian semakin jelaslah ajaran keru¬kunan dalam Islam, dan ajaran tersebut pada dasarnya bersumber dari al-Quran dan sunnah Rasul. Begitu komprehensifnya ajaran Islam sehingga bagaimana membina hubungan yang harmonis antara sesama manusia sehingga terjadi ketertiban dalam kancah kehidupan ini. 

B.    Toleransi Dalam Perspektif Agama Kristiani
Dalam ajaran agama Katholik juga ditemui konsep tentang kerukunan, hal ini sebagaimana tercantum dalam Deklarasi Konsili Vatikan II tentang sikap, Gereja terhadap, agama-agama lain didasarkan pada asal kisah rasul-rasul 17 : 26 sebagai berikut: “Adapun segala bangsa itu merupakan satu masyarakat dan asalnya pun satu juga, karena Tuhan menjadikan seluruh bangsa ma¬nusia untuk menghuni seluruh bumi." 
Dalam bagian lain dari Mukadimah Deklarasi tersebut disebutkan : "Dalam zaman kita ini, di mana bangsa, manusia makin hari makin erat bersatu, hubungan antara bangsa menjadi kokoh, gereja lebih seksama mempertimbangkan bagaimana hubungannya dengan agama-agama Kristen lain. Karena tugasnya memeli¬hara persatuan dan perdamaian di antara manusia dan juga di antara para bangsa, maka di dalam deklarasi ini gereja mempertimbangkan secara istimewa apakah kesamaan manusia dan apa yang menarik mereka untuk hidup berkawan."
Deklarasi konsili Vatikan II di atas berpegang teguh pada hukum yang paling utama, yakni "Kasihanilah Tuhan Allahmu dengan segenap hatimu dan segenap jiwamu dan dengan segenap, hal budimu dan dengan segenap kekuatanmu dan kasihanilah sesama manusia seperti dirimu sendiri.
Isi deklarasi di atas menggambarkan bagaimana bahwa pada dasamya manusia itu memiliki hak yang sama, tidak boleh membeda-bedakannya mesti mereka berlainan agama. Sikap saling hormat-menghormati agar kehidupan menjadi rukun sangat dianjurkan. 
Sebagaimana halnya agama Kristen Katholik, dalam agama Protestan juga menganjurkan agar antar sesama umat manusia selalu hidup rukun dan harmonis. Agama Protestan beranggapan bahwa aspek kerukunan hidup beragama dapat diwujudkan melalui Hukum Kasih yang merupakan norma dan pedoman hidup yang terdapat dalam Al Kitab. Hukum Kasih tersebut ialah mengasihi Allah dan mengasihi sesama manusia.
Menurut agama Protestan, Kasih adalah hukum utama dan yang terutama dalam kehidupan. orang Kristen. Dasar kerukunan menurut agama Kristen Protestan didasarkan pada Injil Matius 22:37.

C.    Toleransi Dalam Perspektif Agama Hindhu
                   Dalam agama Hindu diajarkan pula tentang masalah kerukunan. Pandangan agama Hindu untuk mencapai kerukunan hidup antarumat beragama, manusia harus mempunyai dasar hidup yang dalam agama Hindu disebut dengan Catur Purusa Artha, yang mencakup Dharma, Artha, Kama dan Moksha. Dharma berarti susila atau berbudi luhur. Dengan Dharma seseorang dapat mencapai kesempurnaan hidup, baik untuk diri sendiri, keluarga, dan masyarakat. Artha, berarti kekayaan dapat memberikan kenikmatan dan kepuasan hidup. Mencari harta didasarkan pada Dharma. Kama berarti kenikmatan dan kepuasan. Kama pun harus diperoleh berdasarkan Dharma. Moskha berarti kebahagiaan abadi, yakni terlepasnya atman dari lingkaran samsara. Moskha merupakan tujuan akhir dari agama Hindu yang setiap saat selalu dicari sampai berhasil. Upaya mencari Moskha juga mesti berdasarkan Dharma. Keempat dasar inilah yang merupakan titik tolak terbinanya kerukunan antarumat beragama. Ke-empat dasar tersebut dapat memberikan sikap hormat-menghormati dan harga menghargai keberadaan umat beragama lain. Tidak saling mencurigai dan saling menyalahkan. 
D.   Toleransi Dalam Perspektif Agama Budha
Pandangan agama Budha mengenai kerukunan hidup umat beragama dapat dicapai dengan melalui 4 jalan kebenaran. Yakni : 
1.     Hidup adalah suatu penderitaan (dukha).
2.    Penderitaan disebabkan karena keinginan yang rendah (samudaya).
3.    Apabila keinginan rendah dapat dihilangkan maka penderitaan akan berakhir. 
4.    Jalan untuk menghilangkan keinginan rendah ialah dengan melaksanakan 8 jalan utama (1. Kepercayaan yang benar. 2. Niat/pikiran yang benar. 3. Ucapan yang benar. 4. Perbuatan yang benar. 5. Kesadaran yang benar. 6. Mata pencaharian/usaha yang benar. 7. Daya upaya yang benar. 8. Semadhi/ pemusatan pikiran yang benar).
Dalam pengajaran Budha Gautama kepada ma¬nusia telah dilaksanakan dengan dasar : 
a.    Keyakinan kepada Tuhan Yang Maha Esa tidak dapat ditembus oleh pikiran manusia. 
b.    Metta berarti belas kasih terhadap sesama makhluk. Belas kasih terhadap makhluk ini hendaknya seperti belas kasih seorang ibu terhadap putranya yang tunggal. 
c.    Karunia, kasih sayang terhadap sesama makhluk, kecenderungan untuk selalu meringankan penderitaan orang lain. 
d.    Mudita, perasaan turut bahagia dengan kebahagiaan makhluk lain tanpa bennda, iri hati, perasaan prihatin bila makhluk lain menderita. 
e.    Karma (reinkarnasi). Hukum sebab akibat. 

E.   Toleransi Dalam Perspektif Agama KhongHucu
Sebagaimana agama-agama lainnya seperti telah diuraikan di atas, maka dalam agama Khonghucu jugs ditemui ajaran yang dapat mengantarkan pemeluknya untuk hidup rukun dengan pemeluk agama lainnya. Di antara ajaran atau lima sifat yang mulia (Wu Chang) yang dipandang sebagai konsep ajaran yang dapat men¬ciptakan kehidupan harmonis antara sesama adalah : 
a.    Ren/Jin, cinta kasih, tabu diri, halus budi pekerti, rasa tenggang rasa serta dapat menyelami perasaan orang lain. 
b.    I/Gi, yaitu rasa solidaritas, senasib sepenanggungan dan rasa membela kebenaran. 
c.    Li atau Lee, yaitu sikap sopan santun, tata krama, dan budi pekerti. 
d.    Ce atau Ti, yaitu sikap bijaksana, rasa pengertian, dan kearifan. 
e.    Sin, yaitu kepercayaan, rasa untuk dapat dipercaya oleh orang lain serta dapat memegang janji dan menepatinya.
Memperhatikan ajaran Khonghucu di atas, terutama lima sifat yang mulia di atas di mana Khonghucu sangat menekankan hubungan yang sangat harmonis antara sesama manusia dengan manusia lainnya, di samping hubungan harmonis dengan Tuhan dan juga antara manusia dengan alam lingkungan
Setiap penganut Khonghucu hendaknya mampu memahami dan mengamalkan kelima sifat di atas, sehingga kerukunan atau keharmonisan hubungan antar sesama dapat terwujud tanpa memandang dan membedakan agama darikeyakinan.
Jadi pada dasarnya semua agama telah memberikan ajaran yang jelas dan tegas bagaimana semestinya bergaul, berhubungan dengan pemeluk agama lain. Secara dassolen semuanya menjunjung tinggi hidup rukun, saling tolong-menolong antara pemeluk masing-masing agama, namun terkadang pemeluknya lupa atau tidak mampu mengaplikasikan ajaran, tuntunan dari agamanya. Terkadang dassolen da
n desain tampak tidak sejalan.

Semoga dengan beragamnya agama di negara kita tercinta ini semakin tinggi sikap saling menghargai, menghormati dan toleran terhadap agama masing-masing dan agama orang lain, serta semua agama itu mengajarkan hal-hal yang positif dan baik adanya. Amin J


Iman Tanpa Perbuatan adalah Mati (2)

Iman Tanpa Perbuatan adalah Mati (2)





   Alkisah ada seorang anak yang memiliki semangat yang menyala-nyala dalam melayani Tuhan. Berbagai kegiatan pelayanan dia ikuti. Dari paduan suara, buletin, pelayan mimbar, pengurus pemuda/remaja di gerejanya, belum lagi pelayanan-pelayanannya di kampus. Sampai-sampai anak tersebut menelantarkan kuliahnya. Pada suatu saat ada acara pemuda dan dia ditugaskan menjadi koordinator sie dekorasi. Acara diadakan hari jumat sore, padahal jumat paginya dia harus mengikutin ujian akhir semerter. Karena dia merasa diberi tanggung jawab sebagai koordinator, maka dia mengabaikan ujiannya dan tetap ikut mendekor sampai dini hari. Sepulang dari gereja dia merasa sangat lelah dan akhirnya tertidur. Keesokan paginya dia bangun kesiangan, ujian dimulai jam 8.00 dan dia baru bangun jam 7.30, padahal jarak tempuh rumah – kampus sekitar 20 menit. Dengan tergesa-gesa dia mandi dan berangkat, singkat cerita sampailah di kampus. Sebelum mengerjakan soal anak tersebut berdoa, “Tuhan, aku berserah kepadaMu. Kau Allah yang jauh lebih besar dari semua masalahku, aku percaya Kau sanggup menolongku mengerjakan soal-soal tes ini. Amin.” Apa yang terjadi kemudian? Setelah beberapa minggu keluarlah nilai ujian dan ternyata anak tersebut dinyatakan tidak lulus.

   Menurut Ibrani 11 : 1 “Iman adalah dasar dari segala sesuatu yang kita harapkan dan bukti dari segala sesuatu yang tidak kita lihat.”. Namun penjelasan tentang iman tidak hanya seperti itu saja. Iman bukan sekedar percaya bahwa kita pasti akan mendapat apa yang kita inginkan. Anak tersebut di atas bisa dikatakan memiliki “iman” karena dia percaya bahwa Tuhan sanggup menolong dia mengerjakan soal-soalnya dan dapat lulus dalam ujian mata kuliah tersebut. Tetapi apa yang terjadi? Dia gagal dalam ujiannya. Hal tersebut disebabkan karena “iman”nya tidak berdasar pada sesuatu yang benar. Dia mengatakan percaya tapi tidak disertai dengan tindakan iman. Banyak orang kristen beranggapan bahwa iman itu hanyalah sekedar percaya dan yakin pada diri sendiri.

   Tentu bukan iman yang seperti itu yang Tuhan kehendaki. Tuhan menuntut sebuah ketaatan dan kerja keras kita untuk membuktikan iman kita. fokus dari iman yang benar bukanlah pada tujuan atau sesuatu yang ingin kita raih, melainkan pada Tuhan. Bagaimana pengorbanan kita untuk menunjukkan iman kita. Seperti iman Abraham kepada Allah, dia rela mempersembahkan anak satu-satunya kepada Allah. Itulah iman yang benar. Jadi jangan hanya berpendapat bahwa iman hanya sekedar percaya saja, tetapi Allah butuh tindakan nyata kita karena iman tanpa perbuatan hakikatnya adalah mati. 

(By repost : Renungan Harian Kristiani)


Yakobus 2:14 “Apakah gunanya, saudara-saudaraku, jika seorang mengatakan, bahwa ia mempunyai iman, padahal ia tidak mempunyai perbuatan? Dapatkah iman itu menyelamatkan dia?”

Selasa, 03 November 2015

“Perbedaan Itu Indah”

“Perbedaan Itu Indah”

“Perbedaan Itu Indah”
                                  
        Apa arti sebuah persahabatan bila didalamnya tidak terjadi konflik ataupun perdebatan? Sebuah persahabatan terjalin bila satu dengan yang lainnya dapat mengerti memahami dan saling percaya. Percuma bila tidak didasari dengan itu semua, rasanya percuma, hampa dan tidak berarti apa apa. 
Apa mungkin karena perbedaan yang bisa menyatukan kami? Atau hanya karena kebetulan saja? Jawaban bisa ya atau tidak. Berawal dari sebuah perkenalan biasa saja. Saling sapa menyapa satu sama lain. Canda tawa bersama kita lakukan setiap harinya. Mungkin karena masih di usia remaja. Usia yang masih labil membuat kami terlalu egois. Dengan banyak masalah yang kami hadapi malahan menjadikan pertemanan kami semakin dekat dan semakin erat.  
Tak kenal maka tak sayang, di bangku SMK kelas 2 hubungan kami bertiga bukan apa-apa. Hanya sekedar teman biasa yang say hello saja. Mungkin karena perbedaanlah yang bisa menyatukan kami. Hari-hari terus berganti seiring matahari bergerak dari arah timur ke barat. Kami sering meluangkan waktu bersama hanya untuk sekedar mencari makan, entah jalan-jalan ataupun untuk bercerita. Kedekatan kami semakin bertambah ketika kami duduk di kelas 3. Bukan juga kedekatan jarak yang tidak kami inginkan pun pernah terjadi. Tapi entah karena apa walaupun ada perdebatan diantara kami, ujung-ujungnya kami akan kembali lagi. Karena itulah kami memutuskan untuk menjalin kekerabatan lebih dekat dan mungkin jika suatu saat nanti kami bertiga berpisah entah karena suatu apapun atau kehendak Tuhan sendiri kami akan tetap selalu menjadikan persahabatan kami tiada duanya. Because, Indeed, the great friends are hard to find, hard to leave, and difficult to forget J.

Persahabatan kami indah dan lucu mungkin ya. Aku yakin, if good friends only know about best stories in your life, best friends have lived them with you. Yak inilah kisah kami bertiga yang terkadang membosankan, lucu, terharu, saling egois, keras kepala, tapi inilah kami tumbuh menjadi sahabat yang saling mengerti satu sama lain.
Persamaan dari kami bertiga pasti ada. Yah, contohnya antara kisah percintaan antara aku dan si centil satu ini sebut saja dia Endang (ups maaf ndang). Lucunya itu kami dulu dekat ya karena kesalahpahaman masalah ini. Nama doi yang sama sekolah yang samar di dengar sama dan juga dengan kisah yang sama. Entah karena takdir ataupun kebetulan aku juga tidak mengerti. Sampai menginjak di bangku perguruan tinggi sekarang pun masih saja membahas topik yang seharusnya tidak dibahas terus menerus, karena itu merupakan bagian dari masa lalu, yah sejarah kok..
Ganti topik ya guys, lanjut ke Amalia. Banyak orang-orang,teman-teman, bahkan guru SMK kami dahulu mengira kalua kami itu kembar. Kembar yang beda ayah dan ibu pastinya hehe.. banyak guru salah menyebutkan nama kami, keliru, bahkan lupa. Diantara kami bertiga yang paling egois ya aku. Jelas aku, karena apa? Bintang Leo yang punya sifat menjadi leader, keras kepala, egois, menjengkelkan pastisnya. Tapi entah karena mereka terpasak atau tidak aku yakin a best friend is the person who knows all about your badness, but still likes you.
Sebenarnya masih banyak cerita tentang kami bertiga, mungkin cukup ini dulu kali yaa nge-post nya hehe… dibawah ini ada catatan dari sahabat super aku. Tanggapan mereka tentang kami bertiga disimak yaa guys....





Amalia quotes : “Merasakan kesamaan sifat dan perilaku membuat kedekatan semakin terasa antara teman sebenarnya. Yang tadinya hanya sebatas mengetahui nama dan sosoknya saja kini lebih mengenal lebih dalam siapa sesungguhnya dia. Teman yang selalu menjadi tempat curahan hati diyakini bahwa dia memang benar sahabatku. Bahkan teman yang lain, guru mengira kita saudara kembar. Bertengkar hal biasa, paling hal kecil saja yang sebenarnya tidak perlu dipermasalahkan atau biasanya karena salah paham. Walaupun begitu kita merasa bahwa pertengkaran sangatlah tidak menguntungkan , jadi tidak perlu waktu lama untuk berbaikan lagi. Dia dengan ku selalu melalui nya bersama-sama baik sedih, susah, senang, gagal dan berhasil. Kita punya komitmen, itulah yang membuat kita tetap bersama walaupun kita tidak memiliki waktu yang sesering dulu ketika kita masih satu sekolah tetapi kita tetap bisa curhat dan bercanda. Kejujuran itu mahal menjadikan komitmen kita. Karena kita ingin adanya keterbukaan tidak ada yang ditutup-tutupi dan tidak ada yang berakting ”.

Endang quotes : “Persahabatan kita nggak pernah terduga, karena apa? Kita dipertemukan setelah mendapat pengalaman yang ternilai banget untuk kita, emm terus persahabatan kita itu aneh, karena semua apapun cerita cinta kita selalu sama, sampai nama aja bisa mirip gitu. Aku harap persahabatan kita bakal sampai kakek-nenek”.

Always remember my statement : do not expect your friends to be perfect people for you. But, help them to be a perfect person. because that is the meaning of true friendship God Bless You…J

                

~Agama Bukan Untuk di Perdebatkan~

~Agama Bukan Untuk di Perdebatkan~

~Agama Bukan Untuk di Perdebatkan~




A
gama bukanlah halangan untuk melakukan suatu tindakan. Menurut saya semua agama baik adanya. Banyak orang yang salah faham tentang pendalaman agama masing-masing. Intinya banyak sekarang kesalahpahaman tentang masing-masing agama yang dianut oleh seseorang. Yang pada intinya banyak terjadi serang menyerang statement antara orang-orang kristiani dan dari muslim. Menurut saya ini sangat memprihatinkan. Bukankah agama itu mengajarkan hal-hal yang baik untuk umatnya? Bukankah sebenarnya kita ini semua saudara? Satu keturunan dari Adam dan Hawa? Bukankah kita sama-sama ciptaan Tuhan? Yang salah disini bukanlah agama yang mereka anut tetapi karena manusianya yang tidak bisa berfikir meluas dan juga kenyakinan masing-masing orang. Pikiran yang egois dan mengganggap agamanya selalu benar itulah yang patut diperhatikan.

M
engapa agama tidak boleh dan tidak bisa dijadikan perdebatan? Masing-masing mengklaim agama yang dianut adalah yang paling baik dan benar. Pertama, alasan ini dikarenakan sejak dari kita lahir sampai dewasa kita telah diajarkan dan dibesarkan oleh agama yang dianut oleh ayah dan ibu kita. Jadi sangat wajar apabila kita mengklaim agama yang kita anut adalah agama yang paling benar dan baik. Kedua, agama merupakan masalah yang paling mendasar bagi setiap manusia, yang artinya agama dibicarakan pada hati masing-masing manusia, atau tepatnya agama adalah bahasa hati dengan Tuhan dan bahasa lisan sesama manusia yang seiman. Tetapi apabila kita paksakan bahasa sesama manusia yang tidak seiman, maka terjadi 'perang' statement. Ketiga, masing-masing agama mempunyai keyakinan Tuhan masing-masing, islam mengakui Allah, kristiani mengakui Yesus. Tuhan manakah yang benar-benar Tuhan? Semua berlandaskan kitab suci masing-masing. Untuk ukuran dunia masalah ini tidak akan bisa terjawab, mengapa? Karena yang menjawab adalah manusia, bukan Tuhan yang menjawab. Jadi kapan Tuhan akan menjawab? Tuhan akan menjawab setelah kiamat nanti, barulah kita akan tahu semua siapakah Tuhan yang sebenarnya, dan apabila kita benar mengakui Tuhan manakah yang benar-benar Tuhan, Surga adalah ganjarannya, apabila ternyata kita salah, Neraka adalah ganjarannya. Jadi untuk sekarang ini, kita masih bisa mengklaim agama yang kita anut adalah yang paling baik dan benar, tetapi setelah kiamat nanti, akan terjawab. Keempat, untuk kehidupan sesama manusia dimuka bumi ini yang beraneka keyakinan agama, pakailah bahasa yang penuh etika, toleransi dan sopan santun, bukan bahasa agama. karena urusan dunia adalah saling bantu membantu sesama manusia dimuka bumi, dan urusan agama adalah urusan kita dengan Tuhan untuk mencapai surga 'dikemudian' hari. Jadi sangat jelas mengapa agama tidak boleh dan tidak bisa dijadikan perdebatan.
        Semoga kita seluruh umat yang ada di muka bumi ini lebih saling menghormati antar sesama manusia yang berbeda kenyakinan, guna saling bantu membantu untuk kehidupan dimuka bumi ini, karena “agama itu mempersatukan bukan memecah belah”.

Berkah Dalem J


Sabtu, 31 Oktober 2015

Iman tanpa perbuatan adalah mati

Iman tanpa perbuatan adalah mati

Yakobus 2:17 Demikian juga halnya dengan iman: Jika iman itu tidak disertai perbuatan, maka iman itu pada hakekatnya adalah mati.

Keimanan Akan Menimbulkan Cinta dan Kasih Sayang Terhadap Semuanya
Pada tanggal 7 September 2015, saya dan kelompok saya berkunjung ke Yayasan Sosial Soegijapranata Panti Asuhan Cacat Ganda yang terletak di Jalan Dr.Ismangil No. 18 Semarang Barat. Sasaran pelayanan kami untuk anak-anak baik putra maupun putri yang menderita cacat mental dan cacat fisik (berat). Panti Asuhan Cacat Ganda saat itu menampung 18 anak dan 13 orang dewasa. Dari sekian banyak anak-anak dan orang dewasa disana, kami tergerak hati untuk mendekati salah satu dari mereka, yaitu Kak Susi. Walaupun berkekurangan tetapi dia masih mau berusaha untuk membuat sesuatu yang kemudian dia jual di area Panti. Kak Susi ini hanya mengalami cacat fisik tidak cacat mental. Hanya dia saja yang mengalaminya. Kak Susi ini lahir pada tanggal 31 Oktober 1990. Jadi Kak Susi ini sudah berusia 25 tahun. Dengan keterbatasannya, Kak Susi ini membuat beraneka macam gelang dan kalung untuk anak-anak maupun orang dewasa. Harganya pun cukup relative murah, antara 7000-15000. Saya dan teman saya langsung membeli gelang dan kalung buatan tangan Kak Susi. Menurut ceritanya, Kak Susi ini sudah ditinggal lama oleh orang tuanya. Ayahnya sudah meninggal sejak dia masih kecil dan ibunya meninggalkan Kak Susi saat masih kecil. Tapi saya sangat salut dengan Kak Susi, walaupun ditinggalkan oleh orang tuanya sejak kecil Kak Susi ini tegar dan menerima apa yang diberikan Tuhan kepadanya. Dari Panti Asuhan Cacat Ganda Bakti Asih ini, saya sangat tersentuh dengan motto panti asuhan tersebut yaitu : “ Bawalah cinta kasih yang anda terima dari Tuhan secara tulus tanpa pamrih, dan salurkan pada anak-anak asuh kami yang merindukan belaian cinta kasih sayang”. Saya sungguh sangat bersyukur kepada Tuhan, atas semuanya terlebih atas hidup saya yang utuh ini. Dengan adanya proyek kebaikan ini kunjungan saya dan teman-teman bisa membuat orang sekitar juga ikut mau ambil bagian dengan kami dan membantu sanak saudara yang lebih membutuhkan uluran tangan kita. Ini adalah foto kami dengan Kak Susi di Panti Asuhan Cacat Ganda Bakti Asih yang beralamat di Jalan Dr. Ismangil No. 18 Semarang Barat dan juga foto saat sedang prepare





Pada tanggal, 21 September 2015 saya dan kelompok proyek kebaikan saya, mengunjungi sebuah PAUD yang bernama PAUD REMA HAPPY KIDS ,Jalan Pucang Permai 8 No. 1 , Semarang. Tujuan kami mengunjungi POS PAUD tersebut adalah untuk menyelesaikan tugas MID semester, Belajar dan menambah pengalaman cara mengajar anak usia dini, Membangun kreativias anak usia dini, Memahami interaksi anak usia dini, Memberikan nilai-nilai kebersamaan pada anak usia dini, Ikut berkontribusi dengan lingkungan sekitar, Menanamkan nilai untuk peduli kepada sesama. logistic untuk pelaksanaan pengajaran di PAUD




Bersamaan dengan hari itu, saya dan kelompok saya mengunjungi sebuah sawah yang terletak di daerah Mranggen, Kabupaten Demak. Disana kami belajar banyak tentang bagaimana menjadi seorang petani yang harus benar-benar merawat sawah dengan baik. Saya merasa salut dengan Bapak Ruslam, demi sesuap nasi Bapak Ruslam rela bekerja di tengah panas sinar terik matahari yang menghantam kulitnya. Banyak pengalaman yang saya dan teman-teman ambil dari Bapak Ruslam, pertama jangan lupa untuk selalu bersyukur setiap hari. Kedua jangan pernah jadi orang yang memiliki segala-galanya karena semua yang ada adalah milik yang MahaKuasa. Saya sungguh berterima kasih kepada Tuhan dan bersyukur atas apa yang Tuhan berikan kepada saya selama ini. Tugas dari bapak Gregorius Daru membuat saya semakin merasa menjadi manusia yang utuh, penuh tanggung jawab, dan lebih peka terhadap lingkungan sekitar terutama untuk orang-orang yang membutuhkan. Ini adalah foto kami dengan Bapak  saat kami beristirahat di sebuah sawah yang terletak di daerah Mranggen Kabupaten Demak.




Allah memberikan banyak petunjuk agar kita semakin beriman. Anda bisa menemukannya disetiap tempat, disetiap waktu, disetiap kejadian
berkah dalem :) 

Jumat, 30 Oktober 2015

Cinta Tapi Beda?

Cinta Tapi Beda?

Cinta Tapi Beda?

   “Karena itu Tuhan nyiptain cinta biar yang beda-beda bisa nyatu” sepenggal kalimat dari cuplikan drama film yang berjudul “CIN(T)A” (Cina Tuhan dan Anisa). Film ini mengisahkan tentang 2 pemuda yang mempunyai perbedaan agama. Hubungan cinta beda agama bisa terjadi pada siapa saja. Ada yang merasa tidak terganggu oleh hal ini, tapi banyak juga yang tidak setuju dan bahkan menentangnya. Alasannya bermacam-macam, ada yang berkata nikah beda agama itu tidak baik bagi iman, bahkan ada yang percaya bahwa hal ini dosa. Salah satu jalan tengah yang diambil oleh beberapa pasangan adalah pindah agama. Menurut Pendeta Albertus Patty nikah beda agama di dalam Gereja Kristen seringkali tergantung pada gereja itu sendiri. Ada berbagai kebijakan dari pemimpin Gereja (dalam hal ini Gereja Protestan) dan tergantung dari juga sangat tergantung pada sikap orang tua. Bila pemimpin gereja dan orang tua konservatif atau fundamentalis, akan tidak dimungkinkah pernikahan beda agama bisa terjadi. Umumnya mereka menyitir sebuah ayat dari 2 Korintus 6:14 (Janganlah kamu merupakan pasangan yang tidak seimbang dengan orang-orang yang tak percaya. Sebab persamaan apakah terdapat antara kebenaran dan kedurhakaan? Atau bagaimana terang dapat bersatu dengan gelap?). Namun, apakah yang dimaksud dengan "orang yang tidak percaya“? Tidak percaya kepada apa? Dan bukankah Yesus mengajarkan untuk mencintai sesama tanpa diskriminasi apapun?  Seringkali catatan sipil juga mempersulit bila ada perbedaan agama antar pasangan, sehingga beberapa pasangan beda agama harus melakukan pernikahan di Singapura, Australia atau Thailand. Di Gereja yang dipimpin Pendeta Albertus Patty dapat dilakukan pemberkatan pernikahan beda agama tanpa membaptis pasangan yang non-Kristen.

   Di masa-masa sekarang banyak pemuda yang bertanya-tanya tentang “boleh tidak menikah beda agama?”. Saya pernah berfikir jika Tuhan mempertemukan mengapa agama yang memisahkan? Lebih detailnya jika Tuhan mempertemukan, mengapa manusia dengan menggunakan agama yang berbeda, tega, rela dan bangga untuk memisahkan? Tapi menurut saya, walaupun beda agama jalankan saja. Karena cinta tidak mengenal perbedaan, cinta adalah anugrah. Karena cinta memiliki sifat yang menyatukan, bukan memisahkan. Yang sifatnya memisahkan adalah kebencian, peperangan, egois untuk mempertahankan kenyakinan. Banyak orang memberikan argument bahwa cinta yang muncul kepada orang yang berbeda agama adalah ujian dari Tuhan untuk melihat apakah seseorang itu memilih nafsunya atau agamanya. Tetapi menurut saya itu tidak benar. Jika seseorang teliti dalam berfikir, maka ia akan menemukan bahwa cinta bukanlah nafsu, dan jika memang Tuhan menguji, Ia pasti akan menguji nafsu bukan cinta. Lalu seseorang juga bisa berargumen bahwa saat seseorang cinta kepada orang yang berbeda agama, maka orang tersebut akan masuk neraka.  Lalu apakah iya yang menentukan masuk surga ataupun neraka adalah manusia? Yang berhak menentukan seseorang masuk surga atau neraka hanya Tuhan. Jika memang Tuhan tidak mengizinkan dua orang berbeda agama untuk saling mencintai. Tentu saja, Ia tidak akan memberikan rasa itu sejak awal. Dan jika kamu adalah orang yang bingung apa yang harus dilakukan saat menghadapi cinta beda agama, jalani saja, jangan takut banyak yang berfikir nikmati rasa itu, nikmati anugrah itu. Saya juga berfikir untuk ke jenjang pernikahan. Bukankah sulit menikah berbeda agama? Bukankah nanti terjadi konflik dengan keluarga masing-masing? Kalau nanti mempunyai anak nanti bingung untuk memilih agama. Konflik itu pasti terjadi, tetapi kembali lagi jika memang jodoh semua masalah bisa terselesaikan. Mungkin Tuhan mempertemukan agar bisa belajar untuk saling menghargai satu sama lain, agar bisa menjadi inspirasi dan bisa belajar dari pengalaman. Apapun yang terjadi bagi saya cinta adalah anugrah dari yang Kuasa.
     Pandangan Lain mengenai Ahlul Kitab
          Apakah sama Ahlul Kitab, Musyrik, dan Kafir? Para ulama tafsir berbeda pendapat. Ada yang menyamakan ada yang membedakan.
          Menurut Ahmad Nurcholis yang juga penulis novel Kado Cinta Bagi Pasangan Beda Agama memiliki tafsiran berbeda. Musyrik dipahami sebagai mereka yang menyekutukan Tuhan. Kafir dilabelkan kepada mereka yang tidak ber-”Islam”, Ahlul kitab diidentikkan dengan penganut Yahudi dan Nasrani.
          Ahlul kitab menurutnya meliputi semua pemeluk agama asal mereka percaya kepada satu Tuhan, hari akhir, dan berbuat baik.
         


Contact

Get in touch with me


Adress/Street

Phone number

Website